Cinta Yang Telah Hilang!What a shit
Cinta Yang Telah Hilang!What a shit
Cinta dan Rasa itu yang telah tereliminir
Cinta,
Suatu ranah diskursus yang teramat dapat dinikmati oleh setiap orang dimana pun dia berada. Cinta adalah suatu perasaan dasar yang diyakini telah dimiliki atau termiliki ketika manusia dilahirkan dalam wujud mahluk hidup yang seutuhnya.
Cinta,
Nikmat bercinta ketika suatu perasaan dan aura atau chemistry telah masuk kedalam hati dan mempengaruhi sistematika tubuh dan nurani. Keberadaan perasaan saling membutuhkan mulai timbul sedikit demi sedikit dengan berbagai motif yang secara alami timbul atau yang timbil di kemudian hari, tergantung dengan apa yang diusahakan setiap manusia dalam setiap detiknya.
Cinta,
Beranalogi dengan kebutuhan manusia akan phallus yang mungkin sempat hilang dan muncul ketika dia menemukan apa yang dia cari. Phallus sentrisme pada akhirnya membentuk karakter percintaan yang timbul dari hati dan pikiran yang disistematika oleh bahasa tubuh dan metafor yang diproduksi secara verbal.
Cinta,
Termasukkah dia dalam fenomena logosentrisme yang melawan kaidah materialisme? fenomena ini timbul layaknya suatu pemikiran tersendiri yang sebenarnya dicoba ditrandensi menjadi suatu kaukus logis ketika sedang berhadapan dengannya. Namun situasi yang demikian pelik dan penuh dengan ilusi ketiadaan logika didalamnya membuat manusia pun berperang dengan apa yang namanya cinta. Kompleksititas cinta pun merambah pada hal yang kemudian banyak orang yang tidak sadari sedang mengalami hal tersebut.
Cinta,
Suatu kajian oposisi biner yang secara tidak sadar akan mengalami pembenaran tanpa harus mengalami abjeksi yang begitu ketat dari masalah nilai dan moral. Cinta harus memiliki/tidak harus memiliki, cinta berperasaan/tidak perasaan, cinta berlogika/tidak berlogika, hal hal tersebutlah yang dikategorikan sebagai oposisi biner...dimana biasanya sentralisasi terhadap hal yang kedua diartikan sebagai arti yang negatif dan cenderung dieliminir. Hal ini pula yang kadang menjadi pengganjal berat ketika suatu pasangan sedang menjalankan hubungannya masing masing.
Masing masing masih bertarung mempertahankan egosentris yang telah berakar dalam kaidah pikirannya masing masing.
Cinta,
Ketika ada keputusan untuk tidak saling memiliki, maka konstruksi cinta yang dianggap sebagai penyatu manusia, peyebar rasa kasih di antara manusia secara perlahan dikonstruksi sebagai pertanda kematian jiwa dalam hati manusia yang mengalaminya. Cinta itu membahagiakan/menyakitkan, cinta itu mendamaikan/mematikan...kehilangan phaluss sentrisme, maka terkadang hal ini yang dapat membawa manusia ke jurang kejatuhan tiada henti.
Dekonstruksi metafor terhadap cinta ini lah yang sedang terjadi. Pertemuan demi pertemuan yang sebelumnya dianggap memberikan benang merah pertalian antar satu sama lain dan memberikan ranah positivisme dalam setiap pasangan, tiba tiba dihentikan dengan berbagai macam kajian yang pada akhirnya membuat seseorang dapat berpikir bahwa cinta dapat membuatnya menderita.
Cinta,
Kesatuan pikiran yang dapat menghancurkan manusia secara fisik dan nurani. Berbagai macam reaksi pun timbul karenanya, seperti kecewa, degradasi kepercayaan diri, melemahnya keyakinan akan positivisme. akar negativitas pun mulai membersit dan melarung dalam hati dan pikiran bagi siapapun yang mengalaminya. Perasaan diperlakukan tidak adil unmulai merambah sedikit demi sedikit.
Cinta,
Inilah yang terjadi pada sebagian orang. Dekonstruksi paham mengenai cinta dan perasaan. ketika pengalaman pengalaman yang dialami memberikan tingkat kesakitan tertentu maka terungkaplah entitas psikotis yang dimiliki oleh orang beberapa. Jiwa dan otak serta hati bertarung memperebutkan kaidah nurani murni yang tadinya ingin dimiliki sekarang lepas begitu saja. Ketika rasa bahagia yang pertama kali dimiliki sekarang punah begitu saja, dan membentuk penilaian penilaian entitas yang sedemikian subjektif sementara yang membuat hal seperti ini kepada beberapa orang tertentu memaksakan rasionalitas pemutusan cinta terhadapnya.Inilah yang pada akhirnya membentuk orang menjadi sangat rentan akan kekecewaan dan negativitas yang akan terus terbawa hingga waktu yang tidak terbatas. Fragmentasi yang sedemikian sulit karena manusia masih berusaha membawa masalah ini serasional mungkin dengan penerimaan logika yang ada..namun entitas perasaan mengatakan bahwa pencernaannya membutuhkan hal yang jauh dari logika dan rasionalitas, sehingga yang timbul adalah rasa pesakitan yang tiada tara.
Cinta,
Absurditas dan penolakan ..itulah yang saya akhirnya pandang dalam diskursus pribadi dan personal saya. pengalaman yang saya dapatkan mengisyaratkan ketidakadilan yang harus saya alami. Tahap akseptasi yang sangat berat bagi saya pribadi sehingga saya mendekonstruksi arti cinta sedalam dalamnya tanpa peduli lagi dengan perasaan orang sekitar dan bahkan tidak peduli akan perasaan diri sendiri. Fenomena yang pada akhirnya berlaku secara sistematis terhadap cara pikir saya terhadap cinta dan perasaan terhadap orang lain. Asimilasi perasaan rasional, melankolik, dan penanaman pemaksaan akseptasi dari hak orang lain yang memutuskan pergi secara psikologis dan nyata membentuk transdensi jiwa saya yang sekarang sudah tidak peduli lagi sampai tingkat pesakitan mana saya sekarang. Sampai mana pula tingkat negativitas saya sekarang, dan hilang sudah kepedulian saya tentang bagaimana orang memperlakukan saya. Dan saya juga tidak memerlukan rasa simpati dan empati dari orang lain untuk masalah ini.
inilah kesimpulan yang saya dapatkan ketika saya merenung di katedral jam 9 malam di ruang meditasi. keterpurukan saya secara personal dan hati...ketika pada saat yang sama juga saya berusaha menormalisasi diri saya untuk masalah masalah tertentu, seperti masalah pekerjaan dan masalah yang melibatkan diri saya secara profesional. Saya tahu betapa salahnya jalan yang saya ambil, namun hanya hal itu saja yang terbentang didepan mata.
Tubuh dan otak dan organ organ tubuh lainnya masih berjalan dengan lancar, namun pada saat yang sama pula jiwa saya sudah meregang ke arah mati.
Terima kasih atas semuanya. Dengan pengalaman pengalaman ini saya menjadi tahu bahwa ada ketidakberpihakan mengenai cinta dan perasaan terhadap saya. kedua duanya sudah saya eliminir sekarang dan terbuang jauh jauh dari pikiran saya.
Semuanya sudah hilang, terbifukrasi, menguap entah kemana
Hilang.
Fanny Syariful Alam
Sumber : Julia Kristeva (Semiotic oedipus), E Grosx (Sexual Subversions: Three French Feminists : Luce Irigaray, Helene Cixous, Julia Kristeva), Simone De Beavoir (Women's life, a Myth), Foucault (History of sexuality)
Cinta dan Rasa itu yang telah tereliminir
Cinta,
Suatu ranah diskursus yang teramat dapat dinikmati oleh setiap orang dimana pun dia berada. Cinta adalah suatu perasaan dasar yang diyakini telah dimiliki atau termiliki ketika manusia dilahirkan dalam wujud mahluk hidup yang seutuhnya.
Cinta,
Nikmat bercinta ketika suatu perasaan dan aura atau chemistry telah masuk kedalam hati dan mempengaruhi sistematika tubuh dan nurani. Keberadaan perasaan saling membutuhkan mulai timbul sedikit demi sedikit dengan berbagai motif yang secara alami timbul atau yang timbil di kemudian hari, tergantung dengan apa yang diusahakan setiap manusia dalam setiap detiknya.
Cinta,
Beranalogi dengan kebutuhan manusia akan phallus yang mungkin sempat hilang dan muncul ketika dia menemukan apa yang dia cari. Phallus sentrisme pada akhirnya membentuk karakter percintaan yang timbul dari hati dan pikiran yang disistematika oleh bahasa tubuh dan metafor yang diproduksi secara verbal.
Cinta,
Termasukkah dia dalam fenomena logosentrisme yang melawan kaidah materialisme? fenomena ini timbul layaknya suatu pemikiran tersendiri yang sebenarnya dicoba ditrandensi menjadi suatu kaukus logis ketika sedang berhadapan dengannya. Namun situasi yang demikian pelik dan penuh dengan ilusi ketiadaan logika didalamnya membuat manusia pun berperang dengan apa yang namanya cinta. Kompleksititas cinta pun merambah pada hal yang kemudian banyak orang yang tidak sadari sedang mengalami hal tersebut.
Cinta,
Suatu kajian oposisi biner yang secara tidak sadar akan mengalami pembenaran tanpa harus mengalami abjeksi yang begitu ketat dari masalah nilai dan moral. Cinta harus memiliki/tidak harus memiliki, cinta berperasaan/tidak perasaan, cinta berlogika/tidak berlogika, hal hal tersebutlah yang dikategorikan sebagai oposisi biner...dimana biasanya sentralisasi terhadap hal yang kedua diartikan sebagai arti yang negatif dan cenderung dieliminir. Hal ini pula yang kadang menjadi pengganjal berat ketika suatu pasangan sedang menjalankan hubungannya masing masing.
Masing masing masih bertarung mempertahankan egosentris yang telah berakar dalam kaidah pikirannya masing masing.
Cinta,
Ketika ada keputusan untuk tidak saling memiliki, maka konstruksi cinta yang dianggap sebagai penyatu manusia, peyebar rasa kasih di antara manusia secara perlahan dikonstruksi sebagai pertanda kematian jiwa dalam hati manusia yang mengalaminya. Cinta itu membahagiakan/menyakitkan, cinta itu mendamaikan/mematikan...kehilangan phaluss sentrisme, maka terkadang hal ini yang dapat membawa manusia ke jurang kejatuhan tiada henti.
Dekonstruksi metafor terhadap cinta ini lah yang sedang terjadi. Pertemuan demi pertemuan yang sebelumnya dianggap memberikan benang merah pertalian antar satu sama lain dan memberikan ranah positivisme dalam setiap pasangan, tiba tiba dihentikan dengan berbagai macam kajian yang pada akhirnya membuat seseorang dapat berpikir bahwa cinta dapat membuatnya menderita.
Cinta,
Kesatuan pikiran yang dapat menghancurkan manusia secara fisik dan nurani. Berbagai macam reaksi pun timbul karenanya, seperti kecewa, degradasi kepercayaan diri, melemahnya keyakinan akan positivisme. akar negativitas pun mulai membersit dan melarung dalam hati dan pikiran bagi siapapun yang mengalaminya. Perasaan diperlakukan tidak adil unmulai merambah sedikit demi sedikit.
Cinta,
Inilah yang terjadi pada sebagian orang. Dekonstruksi paham mengenai cinta dan perasaan. ketika pengalaman pengalaman yang dialami memberikan tingkat kesakitan tertentu maka terungkaplah entitas psikotis yang dimiliki oleh orang beberapa. Jiwa dan otak serta hati bertarung memperebutkan kaidah nurani murni yang tadinya ingin dimiliki sekarang lepas begitu saja. Ketika rasa bahagia yang pertama kali dimiliki sekarang punah begitu saja, dan membentuk penilaian penilaian entitas yang sedemikian subjektif sementara yang membuat hal seperti ini kepada beberapa orang tertentu memaksakan rasionalitas pemutusan cinta terhadapnya.Inilah yang pada akhirnya membentuk orang menjadi sangat rentan akan kekecewaan dan negativitas yang akan terus terbawa hingga waktu yang tidak terbatas. Fragmentasi yang sedemikian sulit karena manusia masih berusaha membawa masalah ini serasional mungkin dengan penerimaan logika yang ada..namun entitas perasaan mengatakan bahwa pencernaannya membutuhkan hal yang jauh dari logika dan rasionalitas, sehingga yang timbul adalah rasa pesakitan yang tiada tara.
Cinta,
Absurditas dan penolakan ..itulah yang saya akhirnya pandang dalam diskursus pribadi dan personal saya. pengalaman yang saya dapatkan mengisyaratkan ketidakadilan yang harus saya alami. Tahap akseptasi yang sangat berat bagi saya pribadi sehingga saya mendekonstruksi arti cinta sedalam dalamnya tanpa peduli lagi dengan perasaan orang sekitar dan bahkan tidak peduli akan perasaan diri sendiri. Fenomena yang pada akhirnya berlaku secara sistematis terhadap cara pikir saya terhadap cinta dan perasaan terhadap orang lain. Asimilasi perasaan rasional, melankolik, dan penanaman pemaksaan akseptasi dari hak orang lain yang memutuskan pergi secara psikologis dan nyata membentuk transdensi jiwa saya yang sekarang sudah tidak peduli lagi sampai tingkat pesakitan mana saya sekarang. Sampai mana pula tingkat negativitas saya sekarang, dan hilang sudah kepedulian saya tentang bagaimana orang memperlakukan saya. Dan saya juga tidak memerlukan rasa simpati dan empati dari orang lain untuk masalah ini.
inilah kesimpulan yang saya dapatkan ketika saya merenung di katedral jam 9 malam di ruang meditasi. keterpurukan saya secara personal dan hati...ketika pada saat yang sama juga saya berusaha menormalisasi diri saya untuk masalah masalah tertentu, seperti masalah pekerjaan dan masalah yang melibatkan diri saya secara profesional. Saya tahu betapa salahnya jalan yang saya ambil, namun hanya hal itu saja yang terbentang didepan mata.
Tubuh dan otak dan organ organ tubuh lainnya masih berjalan dengan lancar, namun pada saat yang sama pula jiwa saya sudah meregang ke arah mati.
Terima kasih atas semuanya. Dengan pengalaman pengalaman ini saya menjadi tahu bahwa ada ketidakberpihakan mengenai cinta dan perasaan terhadap saya. kedua duanya sudah saya eliminir sekarang dan terbuang jauh jauh dari pikiran saya.
Semuanya sudah hilang, terbifukrasi, menguap entah kemana
Hilang.
Fanny Syariful Alam
Sumber : Julia Kristeva (Semiotic oedipus), E Grosx (Sexual Subversions: Three French Feminists : Luce Irigaray, Helene Cixous, Julia Kristeva), Simone De Beavoir (Women's life, a Myth), Foucault (History of sexuality)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home