Give Up!
Akhirnya hampir semua orang yang saya temui dan mereka bilang 'serius' untuk berkomitmen ternyata mereka sudah mempunyai pasangan tetap. yang satu lagi yang kemarin..dia malah berharap dia bisa balik lagi sama mantannya..padahal...saya sudah merasa sayang banget ama dia..ya sudah...karena prinsipnya saya tidak ingin memaksakan kehendak orang lain...mereka punya pilihan...dan saya merupakan pilihan yang tersingkirkan secara wajar dan alami
saya tutup wacana mengenai hati ini..
saya sudah memasrahkan diri mau jadi apa saya,mau orang anggap apa saya, mau orang memperlakukan saya seperti apa..apa saya juga mau melacurkan diri demi kepentingan orang orang atau pribadi saya sendiri, mau melacurkan pikiran kepada sesuatu yang jauh bersifat lebih diskursif atau lebih spritual, mau melacurkan diri ke lembah dimana tiada seorang pun mengetahui keberadaan saya, atau yang lebih penting lagi melacurkan otak saya sehingga saya ngga cepat keGRan menangkap sinyal sinyal dari setiap orang
I have closed my heart successfully.....
Tuhan lah yang menjadi saksi kunci kebisuan hati saya...Dia lah yang menjadi saksi primer keberadaan penguncian hati saya terhadap setiap orang...Dia lah yang menjadi pengiring penguncian hati saya ini...Dengan ini juga saya mengikrarkan kebisuan hati saya menjadi sebuah batu kristal yang akan membifukrasi dan hancur...Dengan ini pula saya mengikrarkan diri sebagai pembenci..dan mengeradikasi dan menghapus semua rasa sayang dan cinta saya dengan jelas...Eliminasi ini merupakan tahap tersadar yang pernah saya lakukan dan dengan jelas juga sudah mempertimbangkan semua konsekuensi logis baik dan buruknya..Ketika Tuhan mengikrarkan rasa sayang dan kasih pada setiap orang sebagai lambang semiotik kehidupan..maka Tuhan dan juga saya mendekonstruksi makna tersebut sebagai lambang semiotik oposisi..terbalik..mengagungkan ketidakpercayaan Cinta dan kasih sayang
I have closed my heart successfully.....
Inilah diri dalam saya yang sebenarnya...mau dikata sakit jiwa secara psikologis dan psikotis, mau dikata saya sebagai pesakitan jadi jadian, mau saya dikatakan sebagai orang terbodoh yang pernah ada..terima kasih...saya anggap semua sebagai wacana pribadi yang tidak akan terlupakan seumur hidup. gambaran jiwa saya yang sebenarnya telah menghilang, menguap laksana tiupan taufan yang sekaligus membawa isi kristal cinta saya.
I have closed my heart successfully.....
Tuhan menciptakan keseimbangan dan ketidakseimbangan..suatu kolokial yang saling beroposisi dalam kebineran definisi....dan Tuhan (beserta jiwa saya juga)terletak dalam ketidak seimbangan..beranalogi dengan kebencian, rasa sakit yang tidak akan tersembuhkan, sisi traumatik yang berat..yang hanya Dia yang tahu...sang Logos...
Cairan hati saya memberitahukan bahwa..cukuplah saya sampai disini....Emosi saya sudah tidak terbendung layaknya teriakan jutaan orang orang yang sedang sakit jiwa, merintih tidak secara verbal tapi secara hati...
I have closed my heart successfully.....
ketidakimbangan yang melahirkan kondisi jiwa baru yang sejujurnya mungkin keadaannya jauh lebih buruk...dan saya dikondisikan untuk menghadapinya sepenuh hati...mengharap ketidakbalasan dari apa yang telah saya lakukan baik dan buruk....
I have closed my heart successfully....
Biarlah angin membawa si pesakitan ini kemana pun angin akan melabuhkan tiupannya...karena saya sudah terbiasa menghadapi rasa sakit yang jauh lebih hebat...biarlah saya terima, karena media tubuh dan jiwa dan hati saya juga memang terbuka untuk itu..dan memang sudah tersurat dalam catatan sang Logos, Tuhan yang Maha Kuasa untuk menderitakan saya....saya tidak marah terhadap Tuhan...karena Dialah yang menemani saya, menjadi saksi akan ikrar ikrar saya.......
sampai TanganNya datang menjemput jiwa sakit saya ini.......
Saya tahu...mungkin hal putus cinta atau ditolak merupakan masalah kecil bagi orang tertentu...masih ada masalah yang jauh lebih besar secara sosial dan kejiwaan ........
saya tahu..saya lah yang terbodoh karena mau saja membesarkan masalah ini.....ini tidak penting....
Biarlah......
karena saya tahu apa yang terbaik dan terburuk buat hati saya..dan yang terburuk itulah yang terbaik bagi saya.....
Salam,
terima kasih
the end
arriverederci
grazias.........
il nomine patre..cum santcus spriritu, cum magnifico Deo. et tanrtu verdicio,suscepit il magntum Deo denum
saya tutup wacana mengenai hati ini..
saya sudah memasrahkan diri mau jadi apa saya,mau orang anggap apa saya, mau orang memperlakukan saya seperti apa..apa saya juga mau melacurkan diri demi kepentingan orang orang atau pribadi saya sendiri, mau melacurkan pikiran kepada sesuatu yang jauh bersifat lebih diskursif atau lebih spritual, mau melacurkan diri ke lembah dimana tiada seorang pun mengetahui keberadaan saya, atau yang lebih penting lagi melacurkan otak saya sehingga saya ngga cepat keGRan menangkap sinyal sinyal dari setiap orang
I have closed my heart successfully.....
Tuhan lah yang menjadi saksi kunci kebisuan hati saya...Dia lah yang menjadi saksi primer keberadaan penguncian hati saya terhadap setiap orang...Dia lah yang menjadi pengiring penguncian hati saya ini...Dengan ini juga saya mengikrarkan kebisuan hati saya menjadi sebuah batu kristal yang akan membifukrasi dan hancur...Dengan ini pula saya mengikrarkan diri sebagai pembenci..dan mengeradikasi dan menghapus semua rasa sayang dan cinta saya dengan jelas...Eliminasi ini merupakan tahap tersadar yang pernah saya lakukan dan dengan jelas juga sudah mempertimbangkan semua konsekuensi logis baik dan buruknya..Ketika Tuhan mengikrarkan rasa sayang dan kasih pada setiap orang sebagai lambang semiotik kehidupan..maka Tuhan dan juga saya mendekonstruksi makna tersebut sebagai lambang semiotik oposisi..terbalik..mengagungkan ketidakpercayaan Cinta dan kasih sayang
I have closed my heart successfully.....
Inilah diri dalam saya yang sebenarnya...mau dikata sakit jiwa secara psikologis dan psikotis, mau dikata saya sebagai pesakitan jadi jadian, mau saya dikatakan sebagai orang terbodoh yang pernah ada..terima kasih...saya anggap semua sebagai wacana pribadi yang tidak akan terlupakan seumur hidup. gambaran jiwa saya yang sebenarnya telah menghilang, menguap laksana tiupan taufan yang sekaligus membawa isi kristal cinta saya.
I have closed my heart successfully.....
Tuhan menciptakan keseimbangan dan ketidakseimbangan..suatu kolokial yang saling beroposisi dalam kebineran definisi....dan Tuhan (beserta jiwa saya juga)terletak dalam ketidak seimbangan..beranalogi dengan kebencian, rasa sakit yang tidak akan tersembuhkan, sisi traumatik yang berat..yang hanya Dia yang tahu...sang Logos...
Cairan hati saya memberitahukan bahwa..cukuplah saya sampai disini....Emosi saya sudah tidak terbendung layaknya teriakan jutaan orang orang yang sedang sakit jiwa, merintih tidak secara verbal tapi secara hati...
I have closed my heart successfully.....
ketidakimbangan yang melahirkan kondisi jiwa baru yang sejujurnya mungkin keadaannya jauh lebih buruk...dan saya dikondisikan untuk menghadapinya sepenuh hati...mengharap ketidakbalasan dari apa yang telah saya lakukan baik dan buruk....
I have closed my heart successfully....
Biarlah angin membawa si pesakitan ini kemana pun angin akan melabuhkan tiupannya...karena saya sudah terbiasa menghadapi rasa sakit yang jauh lebih hebat...biarlah saya terima, karena media tubuh dan jiwa dan hati saya juga memang terbuka untuk itu..dan memang sudah tersurat dalam catatan sang Logos, Tuhan yang Maha Kuasa untuk menderitakan saya....saya tidak marah terhadap Tuhan...karena Dialah yang menemani saya, menjadi saksi akan ikrar ikrar saya.......
sampai TanganNya datang menjemput jiwa sakit saya ini.......
Saya tahu...mungkin hal putus cinta atau ditolak merupakan masalah kecil bagi orang tertentu...masih ada masalah yang jauh lebih besar secara sosial dan kejiwaan ........
saya tahu..saya lah yang terbodoh karena mau saja membesarkan masalah ini.....ini tidak penting....
Biarlah......
karena saya tahu apa yang terbaik dan terburuk buat hati saya..dan yang terburuk itulah yang terbaik bagi saya.....
Salam,
terima kasih
the end
arriverederci
grazias.........
il nomine patre..cum santcus spriritu, cum magnifico Deo. et tanrtu verdicio,suscepit il magntum Deo denum
